skip to Main Content
081267085780 admin@agusmardi.com

Resiliensi Remaja Panti Asuhan

Resiliensi Remaja Panti Asuhan dalam Penyesuaian Diri dan Menghadapi Realita
Kehidupan

Neviyarni 1, Netrawati2
12 Universitas Negeri Padang
*Correspondingauthor, e-mail: neviyarni_s@fip.unp.ac.id , netrawati@fip.unp.ac.id

Abstract: Permasalahan mengenai resiliensi remaja panti asuhan merupakan suatu kajian yang menarik dilakukan karena pada masa remaja terjadi berbagai perubahan- perubahan secara fisik, kognitif, psikologis, dan sosial-budaya. Selain itu, remaja panti asuhan mengalami keterpisahan dengan orangtua. Kemudian remaja panti asuhan juga menghadapi permasalahan dengan berbagai tekanan-tekanan kehidupan selama tinggal di panti asuhan dan mereka harus mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang sulit dalam kehidupannya. Remaja panti asuhan harus mampu bertahan dan bangkit dari situasi dan kondisi yang sulit tersebut. Salah satu kemampuan remaja panti asuhan yang perlu dideskripsikan yaitu resiliensi. Kecenderungan resiliensi remaja panti berada pada kategori cukup dalam menyesuaikan diri, yaitu sebesar 44,19%. Perlu tindak lanjut dari pembina panti asuhan untuk membantu remaja panti dalam meningkatkan resiliensi dan menyesuaikan diri.

Keywords: resiliensi, penyesuaian diri, realita kehidupan

 

How to Cite: Neviyarni, Netrawati. 2019. Resiliensi Remaja Panti Asuhan
dalam Penyesuaian Diri dan Menghadapi Realita Kehidupan
Konselor, VV(N): pp. XXXX,DOI:10.24036/XXXXXXXXXX-X-XX

This is an open access article distributed under the Creative Commons 4.0
Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited.
©2019 by author

Introduction

Resiliensi penting dan dibutuhkan oleh individu karena dalam kehidupan, individu tidak bisa lepas dari situasi dan kondisi sulit yang dapat membuat individu mengalami stres dan tidak dapat dihindari. Resiliensi penting bagi individu untuk menghadapi masalah, tekanan dan konflik yang terjadi dalam kehidupan (Reivich & Shatte, 2002).
Richardson (2002) menjelaskan resiliensi adalah istilah psikologi yang digunakan untuk mengacu pada kemampuan seseorang untuk mengatasi dan mencari makna dalam peristiwa seperti tekanan yang berat yang dialaminya, di mana individu meresponnya dengan fungsi intelektual yang sehat dan dukungan sosial. Maka dari itu harapannya bahwa remaja yang tinggal di panti asuhan mampu memiliki resiliensi yang baik. Individu yang resilien akan mampu beradaptasi secara positif dari tekanan yang dialaminya (Resnick, 2000). Connor dan Davidson (2003) mengidentifikasi lima aspek dari resiliensi, yaitu, kompetensi personal, standar yang tinggi dan keuletan, percaya kepada diri sendiri, memiliki toleransi terhadap afek negatif dan kuat dalam menghadapi tekanan, penerimaan positif terhadap perubahan, hubungan yang baik dengan orang lain, pengendalian diri, dan spiritualitas.
Resiliensi yang dimiliki individu dapat mempengaruhi keberhasilannya dalam beradaptasi pada situasi yang penuh tekanan dengan berbagai resiko dan tantangannya serta membantu remaja dalam memecahkan masalah dan mencegah kerentanan pada faktor-faktor yang sama pada masa yang akan datang (Sales & Pao Perez, 2005). Terdapat beberapa penelitian terdahulu mengenai resiliensi pada remaja panti asuhan. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa remaja yang tinggal di rumah memiliki resiliensi psikologis yang tinggi dibandingkan remaja yang tidak tinggal di rumah (Kaur & Rani, 2015). Selanjutnya ditemukan pula bahwa remaja panti asuhan lebih rentan terhadap resiko yang dapat menyebabkan depresi, keputusasaan, dan trauma psikologis di kemudian hari (Coombe, dalam Jameel, dkk, 2015).
Terlebih lagi bagi remaja panti asuhan, selain mengalami berbagai perubahan-perubahan pada tahap perkembangannya, mereka juga menghadapi berbagai permasalahan kehidupan yang harus diselesaikan dengan baik dan harus mampu menyesuaikan diri dengan berbagai situasi dan kondisi yang mempengaruhi perkembangan kehidupan remaja panti asuhan(Rahmawati, Listiyandini, & Rahmatika, 2018; Pertiwi, Vinaya, & Yudha, 2013).
Selain itu, remaja panti asuhan juga dihadapkan dengan berbagai risiko dan tantangan kehidupan yang tidak dapat mereka atasi dengan sendirinya dan mebutuhkan bantuan orang lain. Kemudian mereka juga mengalami keterpisahan dari orangtua atau keluarga mereka dengan satu atau alasan tertentu lainnya, yaitu: karena faktor kemiskinan, yatim, yatim-piatu, atau broken home. Secara keseluruhan, remaja tinggal di panti asuhan disebabkan oleh ketidakmampuan orangtua dalam memberikan pengasuhan dan perlindungan yang baik terhadap anak-anak mereka (Hidayati, 2014). Penelitian yang dilakukan oleh Mahasiswa S2 BK berkenaan dengan hubungan antara self-esteem dan kompetensi sosial dengan resiliensi remaja panti asuhan di Kota Pariaman, masih ditemukan sebanyak 24 remaja panti asuhan yang memiliki resiliensi sedang. Remaja panti asuhan yang memiliki resiliensi sedang menunjukkan bahwa mereka kurang mampu mengatasi secara efektif dan adaptasi yang kurang berhasil dalam mengatasi kesulitan yang dihadapinya.
Oleh karena itu, berdasarkan permasalahan yang akan dihadapi remaja panti asuhan dan hasil penelitian yang dijelaskan sebelumnya dan penelitian terdahulu, maka perlu dideskripsikan resiliensi pada remaja panti asuhan agar mereka dapat mengatasi berbagai permasalahan kehidupannya dan mampu beradaptasi dari situasi dan kondisi yang sulit.

Method

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif yang bertujuan mendeskripsikan resiliensi remaja panti asuhan dalam menyesuaikan diri. Populasi penelitian ini seluruh anak panti yang ada di Panti asuhan Kota Pariaman sampel sebanyak 43 orang remaja panti. Instrumen yang digunakan adalah angket resiliensi dalam menyesuaikan diri yang dikumpulkan dianalisis menggunakan statistik deskriptif.

Results and Discussion
Anak panti memiliki masalah dalam menjalankan tugas-tugas perkembangannya.
Anak panti yang ada di Kota pariaman sebelum diadakan pengabdian mempunyai masalah- masalah yang terkait dengan kemapuan mereka menyesuaikan diri. Remaja yang hidup di panti asuhan memiliki latar belakang yang beragam. Latar belakang anak panti ada yang kurang mampu secara ekonomi, ada yang orangtua mereka sudah meninggal dunia (yatim piatu), ada yang ibu mereka saja yang sudah meninggal dunia dan bapaknya masih hidup, serta ada yang bapaknya yang sudah meninggal dunia dan ibunya masih hidup. Keterbatasan ekonmomi menjadi dasar keluarga menitipkan -anak mereka di panti. Remaja yang hidup di panti harus mengahadapi realita dan bertanggung jawab untuk hidunya dan masa depannya. Pada masa remaja anak panti dalam mencari dan menemukan identitas dirinya, sehingga perlu bimbingan dan arahan dari ibu panti dan masyarakat. Dari pelaksaanaan pengabdian yang dilakukan berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, kecenderungannya anak panti memiliki masalah dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Mereka memerlukan daya resiliensi yang tinggi dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kapasitas resiliensi anak panti dalam merespon lingkungan perlu ditingkatkan, karena dari hasil pengamatan masih ada anak panti yang lambat dalam menyesuaikan diri.

Dari instrumen yang diisi oleh anak panti dapat dilihat pada Tabel 1. Gambaran resiliensi anak panti dalam menyesuaikan diri.

Tabel 1. Gambaran Resiliensi Anak Panti dalam Menyesuaikan Diri.
Kategori Interval F %
Sangat tinggi 122 – 130 5 11,63
Tinggi 113 – 121 13 30,23
Cukup 104 – 112 19 44,19
Rendah 94 – 103 4 9,30
Sangat rendah 85 – 93 2 4,65

Berdasarkan Tabel 1 dapat diunggkapkan bahwa daya resiliensi anak panti asuhan cenderung berada pada kategori cukup. Artinya masih lebih dari separoh anak panti punya daya resiliensi yang rendah dalam menyesuaikan diri. Data ini perlu mendapatkan perhatian dan tindak lanjut dari pengurus panti asuhan, agar anak panti dapat menyesuaikan diri dengan baik. Menurut Reivich dan Shatte (2002), resiliensi merupakan kapasitas individu untuk merespon secara sehat dan produktif ketika menghadapi kesulitan atau trauma, dimana hal itu penting untuk mengelola tekanan hidup sehari-hari. Resiliensi mengaktifkan seperangkat pikiran yang memungkinkan untuk mencari pengalaman baru dan memandang kehidupan sebagai sebuah kemajuan dalam hal ini individu perlu menyesuaikan diri dengan kenyataan hidup yang terjadi. Resiliensi menghasilkan dan mempertahankan sikap positif untuk digali. Individu dengan resiliensi yang baik memahami bahwa kesalahan bukanlah akhir dari segalanya. Individu mengambil makna dari kesalahan dan menggunakan pengetahuan untuk meraih sesuatu yang lebih tinggi. Individu menggembleng dirinya dan memecahkan persoalan dengan bijaksana, sepenuhnya, dan energik.
Connor & Davidson (2003) mengatakan bahwa resiliensi merupakan kualitas seseorang dalam hal kemampuan untuk menghadapi penderitaan. Block & Kreman (Xianon&Zhang, 2007) menyatakan bahwa resiliensi digunakan untuk menyatakan kapabilitas individual untuk bertahan/survive dan mampu beradaptasi dalam keadaan stress dan mengalami penderitaan. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa resiliensi anak panti dalam kehidupan masih memiliki kapasitas yang baik dalam beradaptasi dengan keadaan, merespon apa yang terjadi dalam kehidupan dengan positif dan sehat. Daya resiliensi mereka dapat untuk memperbaiki diri kearah yang lebih baik, sehingga mampu menghadapi kehidupan yang penuh tantangan dan menghadapi tekanan tekanan dari teman sebaya atau masyarakat yang memendang negatid pada remaja tinggal di panti asuhan.
Sejalan dengan pendapat Holaday (Southwick, 2001), faktor- faktor yang mempengaruhi resiliensi adalah: 1) social support, yaitu berupa community support, personal support, familial support serta budaya dan komunitas dimana individu tinggal. Pada aspek ini anak panti terkadang tidak atau belum mendapatkan support dari teman-temanya di sekolah, karena mereka tinggal di panti. Ada masyarakat dan kelompok yang merespon anak panti dengan respon yang belum tepat, 2) cognitive skill, diantaranya intelegensi, cara pemecahan masalah, kemampuan dalam menghindar dari menyalahkan diri sendiri, kontrol pribadi dan spiritualitas, 3) psychological resources, yaitu locus of control internal, empati dan rasa ingin tahu, cenderung mencari hikmah dari setiap pengalaman serta selalu fleksibel dalam setiap situasi. Dalam mengatasi permasalahannya mereka perlu untuk tetap yakin mampu bertahan hidup dan melanjutkan sekolahnya.

Conclusion

Kecenderungan anak panti memiliki daya resiliensi yang cukup dalam menyesuakan diri dengan lingkungan. Dan lebih dari 50% anak panti memiliki daya resiliensi yang rendah dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan.

References

Connor, K. M., & Davidson, J. R. (2003). Development of a new resilience scale: The Connor‐Davidson resilience scale (CD‐RISC). Depression and anxiety, 18(2), 76-82.
Mujib, A. (2013). Strategi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Prayitno & Amti, E. (2004). Dasar-dasar bimbingan dan konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Prayitno.(2004). Seri PanduanLayanan dan Kegiatan Pendukung Konseling. Padang: UNP Press.
Reivich, K., & Shatte, A. (2002). The resilience factor: Essentials skills for overcoming life’s inevitabel. New York. Broadway Books.
Rew, L., & Horner, S. D. (2003). Youth Resilience Framework for Reducing Health Risk Behaviorism Adolescents. Journal of Pediatric Nursing, 18, 379- 388.
Richardson, G. E. (2002). The meta theory of resilience and resiliency. Journal of Clinical Psychology, 58, 307–321.
Sanjaya, W. (2005). Pendekatan contextual teaching and learning (CTL). Jakarta: Rafika Media.
Sukardi, D. K. (2000). Pengantar pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Sumiati& Asra. (2007). Metode Pembelajaran. Bandung: Wacana Prima.
Wagnild, G. (2013). Development and use of the resilience scale (RS) with middle- aged and older adults; dalam Prince-Embury (Eds), Resilience in children, adolescents, and adults (hlm. 151-160). New York: Springer Science+Business Media.
Rahmawati, B. D., Listiyandini, R. A., & Rahmatika, R. (2018) Gambaran Resiliensi Psikologis Remaja Panti Asuhan Psychological Resilience Profile of Adolescents Living at Social Shelter.
Pertiwi, N. A., Vinaya, V., & Yudha, Y. H. (2013). Gambaran Resiliensi Remaja Penderita Luka Bakar Di Panti Asuhan. Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology, 1(2), 271-288.
Hidayati, N. L. (2014). Hubungan antara self-esteem dengan resiliensi pada remaja di Panti Asuhan Keluarga Yatim Muhammadiyah Surakarta (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Connor, K. M., & Davidson, J. R. (2003). Development of a new resilience scale: The Connor‐Davidson resilience scale (CD‐RISC). Depression and anxiety, 18(2), 76-82. http://doi.org/ 10.1002/da.10113
Kaur, S & Rani, C (2015).Exploring Psychological Health of Orphan Adolescents: A Comparative Analysis. International Journal of English Language, Literature and Humanities, 3, 27-47.

Back To Top